2 September 2012

Rumah bambu dan sejuta rindu


Terinspirasi dari “rumah tanpa jendela” maka muncullah keinginan untuk melambaikan jari diatas tuts keyboard. Sembari mengisi waktu luang, adalah saat yang tepat untuk menggambarkan rumah dimana diri ini dibesarkan.
Sebenarnya, Lebih tepatnya adalah rumah matahari. Kenapa disebut sebagai rumah matahari? Ya.. karena setiap celah dinding dan atapnya mampu diterobos dengan sempurna oleh sinar matahari. Saat mentari menunjukkan keperkasaannya dari ufuk timur, cahaya kuning emas semburat indah meluncur bersama paket-paket spectrum warna, menembus celah-celah kecil dinding yang hanya tersusun atas anyaman bambu alakadarnya. Seolah mereka saling berkejaran saat setiap asap jelaga putih perapian tungku bersorak sorai menyambut kedatangannya.
Cahaya itu mengenai benda apapun yang mencoba mengahalanginya. berbentuk lingkaran penuh apabila tegak lurus, dan berbentuk oval apabila cahaya itu bersudut dengan benda yang dikenainya. Dan oval-oval kuning keputihan itu semakin terlihat jelas dan sempurna ketika mendarat pada lantai alami. Lantai tanpa campuran apapun. Tak ada semen, pasir, dan yang pasti juga tak ada keramik. Yang ada hanyalah tanah timbun yang dipadatkan, sebagai pijakan kaki dari langkah manusia pinggiran.
Tengoklah keatas, langit-langit yang begitu jelas akan susunan kayu penyangga, saling beradu dengan reng membentuk kotak-kotak persegi panjang layaknya Microsoft excel. Namun, tidak semuanya bisa tersusun rapi. Karena usia rumah ini lebih tua dari penghuninya, maka tambal sulam pun tak terelakkan lagi. Barisan genteng membujur seolah bentukan pasukan baris berbaris. Tidak secara keseluruhan, namun hanya sebagian dari bawah atap itu dilapisi plastic yang menghampar. Fungsi dari plastic ini adalah sebagai penadah rembesan air yang menembus sebagian geteng yang sudah mulai dimakan usia. Sehingga air yang bocor itu dapat dialirkan mengikuti radian sudut yang dibentuk dari kemiringan atap itu bersama lembaran plastic yang membentang tersebut.
Tungku perapian disetiap pagi dan sore masih mengepul. Pertanda dapur menjadi aktivitas sentral untuk mengisi kekosongan perut. Pagi menjelang shubuh, sayup-sayup api perapian sudah menyala. Dan disana sudah ada dua panci besar. Satu untuk menanak nasi, dan satu adalah air yang dimasak untuk stock air minum. Setelah sholat shubuh, muncullah seorang bocah yang sedang menjaga perapian. Sembari ia mengahangatkan diri, bersama itu juga terkadang ia berceloteh dan kadang bernyanyi-nyanyi sendiri. Tak jelas apa yang ia nyanyikan, tapi yang terdengar jelas adalah lagu sya’ir sholawat yang senantiasa ia hafal. Dan terkadang juga, hafalan surat-surat juz 30 yang ia lantunkan. Jika mentari mulai terlihat dari rumah matahari yang menerobos celah kecil itu, ia mulai bergegas mempersiapkan diri  untuk berangkat sekolah. Sinar kecil yang sekaligus berfungsi sebagai penunjuk waktu.
Rumah ini terkesan tak beraturan dan berantakan. Karena tak ada tempat yang cukup untuk menyimpan barang-barang yang mungkin bagi kalangan atas  merupakan barang bekas. Tapi bagi sang pemilik, apa yang ada didalam rumah adalah harta, meskipun itu adalah barang-barang yang tak berkelas.
Ah rumah mentariku yang malang. Kapan ku bisa memperbaikinya hingga berdiri kokoh. Tak kerepotan ketika musim penghujan, dan tak silau karena surya yang tanpa segan masuk kedalam. Nanti hingga saatnya tiba, rumah mentariku akan berdiri dengan perkasa hingga orang tak memandang sebelah mata. insyaAllah..







0 comment:

Posting Komentar