28 April 2012

Menakar Hati Seorang Pujangga


Sajak-sajak cinta menari bersama jemari diatas lemabaran suci. Dalam setiap goresanya, mengayun dengan syahdu untaian mutiara  syair. Sebagai ksatria sastra, ia mengasah diri dan jiwanya dengan memadukan dimensi strata kehidupan, dan menyelam bersama nafas cinta dan kasih sayang. Menyentuh hati adalah senjata utamanya. Prinsipnya hanya satu, goyahkan hatinya baru ia kan tersadar dengan sendirinya…

Ini bukan rayuan, tapi sebuah kenyataan atas pilihan sadar. Setiap jejak kaki yang telah ia tapaki, menjadi barisan kata penuh arti. Lihatlah… bagaimana ia merangkai rima penuh irama.
Orang pun tersihir dari bait-bait mutiara atas segores pena yang telah ia ayunkan bersama dengan kesungguhan, pengalamannya mengajarkan atas perkara bijkasana yang merasuk kedalam relung  hidupnya.
Putihnya embun pagi, teriknya sinar matahari, senja yang menyatu bersama jingga, adalah saat dimana sang pujangga mengukir kata-kata indahnya.
bersama malam, ia merunduk tawadhu’.  Bersama sunyi, ia bercermin pada diri.
Menerawang dalam kegelapan, untuk merasakan setiap perjalanan yang telah ia tempuh selama ini. Terkadang, ia kumpulkan serpihan hafalan kalam, yang telah sekian lama memudar.
Hei.. tak terasa. Setetes air mengalir dari lembut pipinya. Bicaranya hati, tertumpah dalam bahasa airmata. Dua tetes saja telah menjadi sebuah pelampiasan yang begitu sempurna. Kelapangan hati tak dapat tergantikan oleh pesona dunia yang terkadanga sebatas pada fatamorgana.
Turnera subulata, menjadi saksi atas apa yang ia alami saat ini. Dalam rerimbuan eleais guineensis ia hanya memandang akan sebuah masa depan yang masih berupa kabut. Tapi dengan berebekal keyakinan, ia mantap melangkah bersama alam bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk sebuah kemungkinan, begitu pula dengan masa depan.

0 comment:

Posting Komentar