21 Juni 2012

Aku adalah seorang planter


Lulus dari universitas jember dengan menyandang gelar sarjana teknologi pertanian, mengahruskan aku untuk menanggung beban moral atas gelar yang telah di berikan. Terkadang aku berfikir bahwa gelar itu taka da guna sama sekali. Karena ketika berbicara soal kehidupan dan pekerjaan, yang terpenting adalah kita bisa mengahasilkan uang.
Kuliah hanyalah syarat formalitas agar kita memperolah pekerjaan. Begitula dengan aku, setelah berusaha kesana kemari, berdiam di Surabaya untuk sekian bulan dan akhirnya panggilan untuk melangkah dalam dunia pekerjaan pun di mulai.

Ada sebuah ketertarikan untuk memasuki dunia perbankan. Kata orang, bekerja di bank itu keren. Dan tak jarang pula bahwa teman-temanku yang juga menyandang gelar S.TP kebanyakan adalah pegawai bank. Maka aku pun tak mau ketinggalan. Beberapa bank yang telah mengadakan open recruitment pun aku ikuti. Dan aku mendapatkan pengalaman bagaimana tes kerja di bank itu di lakukan. Bank BNI konvensional mislanya, udah aku ikuti hingga pada tahapan FGD (forum group discussion). Ini adalah tahapan akhir sebelum medical chek up. Tapi apa daya aku tak lolos. Bagaimana tidak, permasalahan yang diberikan adalah pure tentang masalah ekonomi. Sementara education background ku adalah Agriculuture. Dalam diskusi pun aku lebih masuk kedalam psikologis pekerjaan ketimbang aspek materi penting tentang kebijakan moneter. Hum.. Ya selesailah sudah.
Beda lagi dengan BNI syari’ah. Yang ini juga sampai pada tahapan akhir juga. Setelah interview sana sini. Bolak-balik terus antara Surabaya-Kediri. Karena bank yang saya masukin adalah bank BNI syari’ah cabang Kediri kota. Inilah yang namanya penyakit kronis dalam diriku. Yaitu penyakit MALAS. Malas sekali aku untuk berangkat ke Kediri, padahala hanya satu langkah lagi yaitu wawancara dengan core user, dan setelah itu selesai. Tapi sebelumnya emang udah tes dan tinggal nunggu hasil med-check di Indofood plantation. Itulah kenapa, idealisme ku mengatakan bahwa aku harus pilih perusahan perkebunan swasta nasional tersebut. “Ada mimpi yang harus kuraih 2 tahun lagi”, begitu kata hatiku. Dan ini diperkuat lagi dengan diskusiku sama si Tata tentang Bank Syari’ah. Di sela-sela interview aku sempatkan untuk telephone dia dan kami sepat membahas tentang mu’amalat. Ya, sesuai dengan prediksiku sebelumnya bahwa yang namanya bank syari’ah di Indonesia belum bisa dikatkan pure syari’ah. Dan tamatlah cerita tentang bank.
Kini setelah di tempa di Riau selama 4 bulan lebih. Di kayanagn estate (KYE) yang setiap sabtunya harus ujian, kunjungan ke London Sumatera (LONSUM) untuk belajar karet, kunjungan ke Napal estate (NPE) untuk belajar pembibitan dan proses penanaman, ke Sungai rumbia estate (SRE) untuk belajar proses panen dan  ditempa di bataliyon Bangkinang infanteri 132 Bima sakti untuk menjalani pembinaan fisik. Kini aku ditempatkan di perkebunan Sei Mawang estate (SME) Sanggau-Kalimantan Barat. Di tempatkan di Afdelling/divisi II SME dengan luasan yang mencapai hampir 1000 kali lapangan bola atau tepatnya adalah 980 Ha.
Menjadi asisten kebun itu sangat keren kawan. Di riau kami adalah orang yang begitu di segani. Dengan tunggangan megapro, menjadi pembeda antara seorang staff dengan karyawan biasa. Telunjuk dan ucapan asisten kebun adalah uang. Bagaimana tidak, dengan telunjuk ia menyuruh, pun dengan ucapan. Dan setiap tindakan didalam dunia kerja adalah uang.
Setiap perkebunan memiliki style tersendiri terhadap proses kerja dan pengelolaan kebun. Ada beberpa perkebunan besar di nusantara, seperti PTPN yang nota bene milik pemerintah,  Astra, Sampoerna, djarum dan banyak yang lainnya. Sementara tempat dimana aku sekarang menginjakkan kaki adalah di Indofood plantation. Ini adalah nama lama. Sedangkan nama barunya adalah IndoAgri. indoAgri sendiri berpusat di Singapura. Nama PT induknya adalah salim Ivomas Pratama (SIMP). Dan memiliki puluhan anak PT yang prediksiku adalah untuk mengurangi pajak yang harus di tanggung.Komoditinya meliputi; sawit dengan produknya adalah bimoli dan simas, karet dengan product bridgestone, tebu, cacao, singkong untuk bioetanhol, kelapa dalam dan banyak yang lain. Karena baru itu yang aku tahu. Ini baru ngomongkan Indofood yang bergerak dibidang agriculture, belum lagi menyoal tentang Indofood yang bergerak dibidang makanan, siaran, transportasi, perbankan. Dan Entahlah… aku pun gak bisa bayangkan.
Perkebunan yang harus kutangani adalah perkebunan plasma dengan komoditinya adalah kelapa sawit. Perkebunan masyarakat yang di kelola oleh perusahaan dengan ketentuan bagi hasil tertentu. Berbeda sekali dengan Riau, disini memiliki tingat permasalah yang kompleks. Jika di Riau hanya terfokus pada tanaman dan produksi. Disini lebih banyak bercerita tentang permasalahan social. Tentang budaya “dayak” yang kadang tak bisa dinalar oleh sebuah akal. Tentang hukum adat yang ujung-ujungnya adalah uang.
Tapi disini adalah tempat yang juga paling mengasyikkan. Ditengah-tengah keterbatasan yang selalu mengekang, disini adalah tempat paling nyaman untuk bersantai. Menikmati panasnya khatulistiwa. Bekerja pun tidak seperti di Riau yang harus ini dan itu, bahkan taka da jam istirahat bagi seorang asisten seperti aku ini.
Menjadi asisten kebun tak ubahnya seperti manager sebenarnya. Ya, jikalau tak ada tanda tangan dariku untuk sebuah pekerjaan tertentu, Top manager yang ada di atas, hingga sampai di Jakarta pun untuk kantor pusat Indofood, untuk sebuah pekerjaan itu tidak bisa di proses. Tapi sayang, meskipun mendapatkan peran yang begitu central dan fital, tapi terkadangan kebanyakan manager tak mau peduli dangan kondisi yang dialami oleh asisten kebun itu sendiri, apalagi orang-orang Jakarta. Hadeeeh…
Bagaimanapun juga, diamanapun, nyaman tidaknya pekerjaan adalah bergantung kita. Kitalah yang membuatnya menjadi nyaman atau tidak nyaman. Bagiku, ketika orang-orang disekitarku yang secara fakta adalah ber SDM begitu sangat rendah, adalah tugasku untuk mengajarinya dan menjadikannya setara denganku. Disini pun masih banyak yang menganggap agama dipandang sebelah mata, muslim abangan aktivis menamainya, inilah tugas da’wah yang sebenarnya.
Ya, disinilah ujian yang sebenarnya di mulai. Memperjuangkan aqidah, menegakkan syariat, bertoleransi dengan lain umat, melawan kebodohan. Ya.. disinilah tempatnya. Ada mimpi besar di ujung sana, sebagaimana yang telah aku katakan kepada ibuku ketika aku masih kecil. “bu.. aku ingin menjadi seorang petani yang berdasi”




2 comment:

anda bukan petani yang berdasi, tapi kuli/buruh diperusahaan multinasinonal.

anda bukan petani yang berdasi, tapi kuli/buruh diperusahaan multinasinonal.

Posting Komentar